Recent update

Subscribe to RSS feed

Mulai Bosan dengan Friendster

May 15th, 2009 by fjrn

aduh ojan …

fs sampah bgt hari ini!

ngikutn fb, wkwkw plagiat abis!

kalah saingan kali sy sama fb jadinya di rubah deh tu tampilan

padahal sama aja ttp sampah2 juga hahahha

thx lah kalo ada yg baca blog gue ini !

kalo mau add fb gu :

emailnya adalah involume@gmail.com

cheers :)

Posted in Uncategorized | | | 0 Comments

About Graffiti

January 21st, 2009 by fjrn

GRAFFITI

Antara seni, perlawanan dan vandalisme Seni adalah satu bentuk ekspresi kreatif manusia. Seni juga sangat sulit diartikan atau dinilai. Setiap individu, baik sang seniman ataupun penikmat seni itu sendiri, bisa membuat satu parameter untuk menentukan nilai dan artian dari sebuah karya seni. Ini menunjukan bahwa kebebasan adalah tuhan dari seni itu sendiri.

Pada massa modern sekarang ini, graffiti pun mengalami satu perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukan satu identitas pribadi, seperti yang dilakukan oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Yang selalu menuliskan namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian membuat Taki menjadi terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak muda disana, yang seperti terinspirasi oleh Taki, karena hanya dengan melakukan coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi terkenal. Graffiti juga dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sekali lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya.

TEMBOKBOMBER(DOT)COM

Mutasi motifasi ini tak bisa kita katakan sebagai sesuatu yang bukan seni. Bukan pembenaran, bahwa seni itu adalah kebebesan. Namun bisa juga kita katakan, kalau corat-coret di tempet umum yang hanya sekedar unutk menunjukan satu identitas saja adalah bentuk seni juga. Walaupun mungkin dalam satu levelan yang berbeda.

Sedikit berbeda bentuk dari coretan cat semprot yang dihasilkan oleh pelaku graffiti ynang bermotifasi untuk meperkenalkan identitas pribadi atau golonganya, dengan pelaku yang melakukan graffiti sebgai media propaganda atau kritik atas satu kondisi sosial yang ada. Umumnya pelaku graffiti yang menjadikan graffiti sebagai media perlawanan dan penyadaran, dalam graffitinya selalu meninggalkan pesan-pesan pagi orang yang melihatnya. Sehingga hasil dari coretan tersebut pun, bukan sekedar kata-kata atau tulisan. Namun juga banyak menampilkan gambar-gambar, yang kemudian diolah sedemikian rupa, sehingga juga terlihat sebagai sebuah ekspresi kreatif. Kalaupun bentuk penyampaianya hanya berupa tulisan atau coretan, namun ketika coretan tersebut mempunyai makna, pesan atau kritik sosial, maka makna, pesan ataupun kritik sosial dari coretan tersebut adalah sebuah bentuk seni tersendiri. Karena seni itu sendiri, dalam benutknya yang luas akan selalu meningggalkan pesan.

Dan graffiti yang merupakan satu dari sekian banyak farian dalam bidang seni. Namun dinding dan tempat umum yang digunakan sebagai media seni dari graffiti, membuat banyak orang tidak menganggap itu sebagai seni, melainkan melihat graffiti sebagai sebuah perilaku yang merusak sarana dan kepentingan public.

Vandalisme, adalah satu stigma yang sering diungkapakan orang terhadap pelaku graffiti maupun graffiti itu sendiri. Pada hakekatnya, vandalisme sendiri merujuk pada perusakan atas barang milik orang lain termasuk juga barang yang diperuntukan untuk kepentingan public. Namun vandalisme mempunyai aspek emosi dalam melakukanya. Geram dan kesal atau bahakan hanya sekedar untuk melepaskan kebosanan semata, adalah motif dari vandalisme. Jelas memang, ketika merusak kepentingan publik dengan muatan emosi sebagai satu motifasinya, maka bisa kita katakan dia sebagai bentuk dari vandalisme. Berbeda dengan graffiti yang menjadi bagian dari seni, yang lebih menekankan pada unsur penyampaian pesan dan kebebasan berekspresi.

Memang tidak bisa kita jadikan pembenaran, bahwa kebebeasan berekspresi bisa disampaikan dengan media apa saja temasuk dinding dan sarana publik sebagai medianya. Namun juga harus kita perhatikan dewasa ini, untuk mendapatkan sarana melampiaskan ekspresinya, seniman harus benyak mengeluarkan uang. dan mengeluarkan uang untuk berekspresi, ternyata tidak mampu dilakukan oleh para seniman jalanan. Maka digunakanlah dinding sebagai media mereka, selain pertimbangan utama bahwa sarana tempat-tempat umum adalah media yang paling tepat untuk digunakan dalam graffiti, karena graffiti harus meninggalkan pesan yang seharusnya pula dilihat oleh banyak orang.

Tidak sedikit memang orang yang masih menganggap graffiti sebagai sebuah perilaku vandalisme, hanya karena media yang digunakan adalah sarana publik. Namun juga banyak orang yang melihat graffiti merupakan sebuah bentuk ekspresi seni, yang jauh lebih baik ketimbang dinding-dinding dipenuhi dengan pesan-pesan komersial. Dan sekali lagi, graffiti juga patut kita hargai sebagai karya seni. Dan perbedaan ini mungkin menjadi pembenaran bahwa graffiti merupakan sebuah kontroversi.

Posted in Uncategorized | | | 1 Comments

Hello world!

January 5th, 2009 by fjrn

Welcome to Friendster Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Posted in Uncategorized | | | 1 Comments

Categories

Archives

Meta